Kebebasan berpendapat di kelas
Posted by gatut on 16th February 2006
Selagi hangat kasus heboh kartun yang diterbit oleh Jyllan-posten. Saya tanyakan pada beberapa orang teman: Mengapa kebebasan berpendapat perlu?
Saya mencoba mendengarkan sejumlah pendapat yang disampaikan secara tuntas, tanpa memberikan komentar. Kemudian tarik kesimpulan.
Ada sejumlah pendapat memberikan dukungan dan berapa banyak yang tidak-menjawab “mengapa” tetapi menyatakan fenomena dan kerugian atas kebebasan tanpa batas.
Stop!! Di sini saya tidak sedang mempersoalkan “kebebasan pers” (benar/salah, atau harusnya bagaimana), tetapi saya sedang menanyakan manfaat berpendapat secara bebas.
Sebuah buku Magnis memandang kebebasan dari sisi “dari” dan “untuk” apa. Kebebasan adalah bentuk benda dari kata dasarnya yaitu kata sifat bebas. Kita bisa mulai bicara dari kata sifat bebas dulu. “Bebas dari kemiskinan” berbeda dengan “bebas untuk miskin”.
- Bebas dari kemiskinan: seseorang semula berada dalam kondisi tertentu (kemiskinan yang tidak menyenangkan).
- Bebas untuk miskin: seseorang memiliki pilihan atau kesempatan -dengan sengaja- menjadi miskin.
Mahasiswa (baru) di kelas biasa memberikan jawaban yang paling aman. Mahasiswa cenderung mengulang yang sudah ada di buku karena buku adalah referensi dan referensi tidak dapat disalahkan. Alasan yang sangat logis.Dan biasanya atau dikiranya, demikianlah jawaban yang diinginkan oleh dosen.
Situasi di kelas berbeda dengan kehidupan sosial di luar. Setiap pernyataan dan uraian di kelas adalah benar atau salah dalam konteks yang terkondisi dan terbatas sehingga berbeda dengan nilai-nilai yang dianut lingkungan masyarakat . Seringkali justru dalam asumsi-asumsi terbatas ini muncul ide dan penemuan baru.
Kebebasan berpendapat adalah kebebasan UNTUK berpendapat. Ada manfaat atau tujuan (yang baik) yang ingin dicapai. Ada pula kerugian yang muncul. Resiko kebebasan berpendapat di masyarakat salah satunya ada yang tersinggung. Orang lain yang tersinggung, atau kita sendiri yang tersinggung, atau dikira marah/memaki/ .. Namun, kerugian yang mungkin terjadi karena kebebasan berpendapat di kelas [seharusnya] ada pada waktu, tenaga, dan pikiran. Namun, pikiran yang terpakai sebenarnya bukan kerugian melainkan bagian dari latihan. Seperti olahragawan yang sedang menghabiskan waktu dan tenaga untuk berlatih begitu pula hendaknya mahasiswa-dan-dosen bersedia kehilangan waktu-dan-tenaga untuk melatih pikiran.
Sayangnya, berat bagi banyak pihak kehilangan waktu (yang kemudian juga berarti uang). Ketika dosen diburu waktu oleh fakultas/jurusan untuk menyelesaikan bahan ajar, sedangkan mahasiswa juga diburu kelulusan dengan nilai terbaik, … maka perlu tinjau kembali bahan ajar.
Salah satu ide adalah mengurangi porsi knowledge dan memperbesar think. Ada komentar?
Posted in Perkuliahann | Comments Off