GAgasan Tanpa Update Terus

Gagasan, sharing, diskusi, mengenai pendidikan secara umum dan pendidikan komputer (teknologi informasi)

Archive for March, 2006

Pendidikan bisnis: pendidikan yang bersifat bisnis

Posted by gatut on 22nd March 2006

Harga mahal untuk produk pendidikan karena memenuhi permintaan konsumen yang menjadi target market pebisnis pendidikan.

Tidak baik mengeluhi mahalnya harga jasa pendidikan yang dijual oleh badan usaha (yang bergerak di bidang pendidikan). Mereka hanya memenuhi permintaan konsumen pada segmen pasar mereka. Setiap badan usaha pendidikan pasti telah mempertimbangkan faktor harga jual yang dapat diterima oleh pangsa pasarnya.

Produk mereka adalah “jasa pendidikan“. Selama masih ada konsumen yang bersedia membayar lebih mahal untuk produk tersebut, mereka akan terus menaikkan harga jual.

Sebutlah

  • ada pasar-A (pasar kelas Atas yang kaya raya dan sanggup bayar berapa saja) dan
  • ada pasar-B (pasar kelas Bawah yang miskin nestapa dan tanpa dana).

Kemudian pula

  • ada BU-A (badan usaha Atas, yang jual produk mahal harganya) serta
  • ada BU-B (badan usaha Bawah, yang menyedia produk tanpa harga).

Permainannya adalah pasangkan!

Jelas jawabannya (pasar-A dengan BU-A) dan (pasar-B dengan BU-B).

Bila BU-A tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar-A, maka akan ada BU-BU lain yang melihat peluang ini. Kemudian, bila sudah pasti ada yang berdaya-beli pada harga tinggi, siapa yang tidak mau jualan dengan harga mahal? Jadi, wajarlah bila kemudian bertumbuhan BU-A BU-A yang memenuhi kebutuhan masyarakat yang ternyata mau-dan-mampu-beli.

[Please, jangan hanya lihat sisi suram: daya beli menurun,
tetapi ternyata mobil mewah dan makin mewah berseliweran.]

Bila anda termasuk orang-yang-tidak-mau membayar jasa mereka, maka seharusnya tahu diri dengan mengkonsumsi produk pendidikan lain yang lebih murah atau malah tidak-membayar. Analoginya: jangan protes karena harga nasi-goreng yang dijual di McD (Mak Deh) lebih mahal daripada warteg (warung-tega, tanpa eL).

Bagi BU-A, menurunkan harga sampai batas yang berakibat menurunkan fasilitas akan berdampak pada turunnya kualitas. Selanjutnya, konsumen lari, berpindah ke BU-A lain. Asumsinya, BU-A telah memberikan harga terrendah atas produk terbaik yang mereka bisa sediakan.

Layaknya dalam industri lain, dalam industri pendidikan juga ada persaingan bisnis. Para BU jenis A ini juga pasti berusaha memenangkan kompetisi dengan memperhitungkan faktor persaingan pada saat penetapan harga.

Para calon konsumen yang mau pasti juga punya cara untuk meng-evaluasi apakah harga sepadan dengan jasa yang ditawarkan. Di Indonesia, salah satu tolok ukur dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN – PT). Sayangnya, BAN ini tidak menampilkan “biaya studi
sebagai bahan pembanding.

Seperti perusahaan dalam industri lain, badan usaha juga memiliki tanggungjawab sosial (corporate social responsibilities). Dan, tanggungjawab sosial bukan berarti sekedar bagi-bagi rejeki. Selalu ada “udang di balik batu“. Ini juga wajar! Siapa mau rugi? Eits, jangan mengutuk dulu. Bila ada sejumlah pilihan berbuat baik ada yang memberi keuntungan lain, mengapa tidak kerjakan yang menguntungkan terlebih dahulu? Dalam istilah orang agama-is berbunyi: beramal secara cerdas.

Salah satu cara “beramal cerdas” adalah dengan memberi beasiswa. Masyarakat lingkungan (social) diuntungkan karena ada kesempatan bagi beberapa orang pintar yang-tidak-berdaya-beli. Udang-nya adalah dengan menjaga jumlah orang pintar dalam civitas. Manfaat bagi perusahaan setidaknya ada dua:

  • (1) persentase lulusan -yang baik- juga terjaga dan
  • (2) sebagai katalis, membantu kemampuan belajar civitas lain secara langsung-atau-tidak.

Segitu dulu.

Bahasan berikut untuk digagas:
+ Ceiling price: Pengendalian harga pendidikan?
+ Oligopoli: penguasaan pasar pendidikan.
+ Options for the poor (pilihan bagi yang tak-mampu): alternatif pendidikan, pendidikan alternatif.
+ Pendidikan swadaya
+ Formalitas pendidikan: standarisasi atau registrasi?
+ Pengakuan: terdaftar, diakui, disamakan, mengapa tidak ada “melebihi” ?

Posted in Lembaga pendidikan | 1 Comment »

Kerja dulu atau lanjut kuliah dulu?

Posted by gatut on 18th March 2006

Ini potongan email kepada keponakan yang baru lulus Sarjana.

Kerja dulu kemudian lanjut kuliah lagi atau lanjutkan kuliah dulu baru kerja? Masing-masing ada untung rugi-nya. Sekali lagi ini soal opsi setelah lulus sarjana:

  • a. kerja dulu, misal 1-2 tahun, kemudian ambil kuliah S2.
  • b. langsung kuliah S2 hingga lulus, kemudian kerja.

Mana opsi yang sebaiknya dipilih?

Menurut saya dan beberapa teman seusia saya, pada masa sekarang ini, lebih tepat untuk sebisa mungkin kuliah S2 sesegera mungkin. Cepat lulus. Kemudian baru cari kerja atau malah wiraswasta.

Biaya

Jika memang tidak ada biaya atau biaya pas-pas-an (mepet sekali), maka kerja dulu mungkin menjadi pilihan utama. Asal, tetap konsisten untuk tetap menyiapkan biaya kuliah. Nyatanya, sangat sulit. Inginnya: cukup mapan baru kuliah lagi. Standar mapan ini yang paling sulit dipenuhi karena standarnya bergeser terus. Terlebih, godaan aktualisasi diri berupa prestasi di dunia nyata juga tidak ada habisnya.

Harus diakui, meski nilai mata uang turun, harga makin mahal, persaingan makin besar, namun daya beli sebenarnya meningkat. Meski jarak kaya-miskin jauh, namun sebenarnya banyak opsi yang terjangkau yang bisa diambil. Ada makin banyak peluang untuk mendanai kuliah.

Biaya atau investasi.

Kalau ada beasiswa, bagus, tapi kalau tidak ada (gagal memperoleh) beasiswa
sedangkan sebenarnya biaya ada (misal orang-tua) maka mending bayar sendiri.

Pertimbangan utama pada waktu. Waktu TIDAK BISA DIBELI. Bayangkan, berapa duit yang bisa didapat sekarang. Bandingkan, seandainya (seharusnya?) uang yang bisa didapat setelah lulus S2. Uang yang dibayarkan adalah salah satu bentuk investasi. Bukan biaya (cost)! Investasi, karena dana untuk kuliah akan kembali terutama berupa keahlian, keterampilan, nilai diri yang lebih berharga. Yang akhirnya, pasti juga memperoleh penghasilan uang.

Pengalaman.

Hampir semua lowongan men-syaratkan adanya pengalaman kerja. Padahal, bagaimana bisa berpengalaman “pernah kerja” bila untuk bekerja pun perlu pengalaman?

Seperti pertanyaan klasik: mana dulu telur atau ayam? Jawabannya jelas: telur dulu. Ayam sekarang sudah tertuduh kena flu burung. Jadi, dengan telur yang ditetaskan sendiri dalam karantina lebih terjamin bebas flu. Begitu juga, kuliah dulu sampai tuntas, lebih terjamin dari gangguan konsep para praktisi yang sok berteori sembarangan.

Persoalannya: karantina kampus-kampus kita, apakah terjamin?
Jawabannya: pilihlah kampus yang bisa dipercaya, dan percayakan lah.

Bila kampus sudah bisa-dipercaya, seharusnya kita juga mempercayai. Atau: mempercayai yang bisa dipercaya! Jangan dibalik lagi: tidak percaya pada yang dipercayai. Bingung!! Ha ha .. :D

Sudah seharusnya, teori muncul didasarkan pada banyak penelitian. Kemudian juga sudah diujikan pada banyak studi kasus. Bila belum, maka pasti bukan teori. Sudah menjadi tanggungjawab dan tugasnya para peneliti di kampus untuk memastikan kelayakan teori yang diajarkan.

Pengajaran teori hendaknya menyertakan pengalaman yang muncul dalam setiap kasus yang terkait. Artinya, dengan memahami teori juga membawa segudang pengalaman. Demikian lah “harga” pendidikan formal menjadi layak karena selain mendapat teori juga -terlebih- percepatan alih pengalaman/pengetahuan. Kita tak perlu lagi menjalani 10 tahun pengalaman, melainkan cukup 1 semester untuk pengalaman tersebut.

Terus. Setelah lulus nanti, bagaimana saya mendapat pekerjaan yang me-syaratkan pengalaman?

Pengalaman ada dalam studi kasus yang dibahas di perkuliahan. Itu lah pengalaman kita. Biasanya ini hanya berbeda pada kedalaman. Orang yang mengalami, benar-benar tahu detail masalah. Kerugiannya, selain yang mengalami kehabisan waktu menghadapi detail juga kehilangan / kekurangan sudut pandang yang lebih obyektif serta global.

Bagaimana mengangkat pengalaman tersebut agar menjadi pengalaman kita?

Nanti dilanjut deh. Sekarang saya ada urusan lain.

Posted in Lembaga pendidikan, Perkuliahann | 1 Comment »

Sekolah Swadaya

Posted by gatut on 18th March 2006

Sekolah swadaya … berangkat dari kesungguhan (ketulusan?). Bukan pengakuan (brand image), karena pengakuan (berupa ijasah) adalah akibat.
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-02-06-1110/

Kutipan:

… ide sekolah swadaya, dimana kegiatan persekolahan dilakukan oleh kita sendiri – namun kemudian diformalkan dengan ujian kesetaraan, dan mendapatkan ijazah resmi dari Depdiknas.

….

… materi pendidikan yang tersedia hanya itu pada saat tersebut. Cara pelaksanaannya mudah sekali – pertemuan dilakukan di rumah para peserta, secara bergantian. Pengajarnya adalah para ibu-ibunya sendiri, berganti-gantian juga.

Walhasil anak-anak senang sekali, karena suasana belajar-mengajar lebih rileks / tidak kaku, dan di lingkungan yang nyaman bagi mereka. Alhamdulillah, perkembangan mereka ketika itu sangat bagus jadinya.

Selamat berprestasi!!

Posted in Lembaga pendidikan | Comments Off

Outbond Management Training (OMT)

Posted by gatut on 16th March 2006

Artikel menarik tentang outbond. Semoga tidak melanggar HaKI.
=================

Date: Thu, 16 Mar 2006 09:11:16 +0700 (WIT)
From: Dwi Rachmanto
To: unpar3@
Subject: Re: [unpar3] BINGUNG DENGAN PENGHAMBURAN

Outbond lebih dikenal dengan istilah Outbond Management Training (OMT)

Sejarah
Proses mencari pengalaman melalui alam terbuka sudah dimulai sejak zaman Yunani. Sedangkan dalam bentuk pendidikan formal, sudah mulai dilakukan sejak tahun 1821 ditandai dengan didirikannya  Round Hill School, di Inggris, tetapi secara sistematik kegiatan outbond baru dimulai di Inggris pada tahun 1941.

Pada awalnya tujuan dari kegiatan tersebut mendidik pemuda untuk siap perang.  Sehingga kegiatan pelatihan di alam terbuka ini pada akhirnya memang banyak digunakan oleh lembaga militer untuk mempersiapkan prajurit tangguh.
Selain untuk memeprsiapkan prajurit yang tangguh, dewasa ini outbound
digunakan juga sebagai terapi kejiwaan dan untuk membangun modal sosial.

Di Indonesia, contoh beberapa perusahaan-perusahaan yang sudah melaksanakan outbond adalah Caltex, Pertamina, PLN, Exspan, Medco, Bank Indonesia.

Tahapan OMT:

  • Pertama, Pembentukan pengalaman;
  • Kedua, Perenungan pengalaman;
  • Ketiga, Pembentukan konsep;
  • Keempat, Pengujian konsep.

Yang terpenting untuk memulai OMT sebelum memasuki tahap pertama, yaitu tahap pembentukan pengalaman, DIPERLUKAN PENELITIAN PENDAHULUAN tentang kebutuhan pelatihan.

Sesudah diadakan penelitian pendahuluan diharapkan materi pelatihan (kurikulum) dapat disusun dengan baik dan permainan yang dipilih dapat disesuaikan dengan goal dari outbond itu sendiri. Karenanya keadaan akan menjadi sangat mengganggu dan merugikan perusahaan apabila kegiatan yang disusun justru bertentangan dengan kebutuhan organisasi.

Manfaat OMT:

  • Pertama, untuk pengembangan team building. Hal ini mensyaratkan peserta
  • yang ikut serta bekerja dalam sebuah tim atau bagian yang sama.
  • Kedua, Pengembangan Kepemimpinan. Dalam pengembangan kepemimpinan menyaratkan tidak semua level dalam perusahaan tersebut disertakan dalam OMT.
  • Ketiga, Pengembangan Budaya Organisasi.
  • Keempat, pengelolaan perubahan.
  • Kelima, perencanaan Strategik, dan
  • ketujuh, pengembangan diri.

— cut —

Salam,
ADR

Posted in Lembaga pendidikan | 8 Comments »

Kala PTS ngehargai HaKI ie Software

Posted by gatut on 1st March 2006

Diprakarsai oleh Pak Tomi dari STBA, jumat lalu, 24 Februari 2006, saya diundang ngobrol bersama dengan beberapa perwakilan tak resmi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk menjajaki kemungkinan ber-CA-(campus agreement)-nya Microsoft. Lebih jauh lagi, pertemuan ini diharapkan juga dapat memberikan usulan kongkrit bagaimana PTS menghargai HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) atas perangkat lunak.

Diskusi diawali dengan uraian aneka jenis lisensi yang ditawarkan Microsoft. Dibandingkan dengan berbagai jenis lisensi yang ada, ternyata Campus Agreement adalah sebuah skema lisensi yang paling murah (uang yang harus dibayarkan untuk lisensi) dan fleksibel (dapat disesuaikan).

Bagi Microsoft, model kerjasama Campus Agreement selain mencakup satu/sebuah organisasi kampus (Perguruan Tinggi) juga mencakup Academic Consortia (consortia=bentuk jamak dari consortium). Academic Consortia adalah konsorsium, perkumpulan, kelompok, atau paguyuban yang terdiri dari beberapa perguruan tinggi. Istilah keren dan ringkasnya, kami eligible untuk melakukan Campus Agreement.

Dari pengalaman dan hitungan kasar sementar, ternyata PTS memang harus siap membayarkan dana yang cukup besar untuk situasi Indonesia. Oleh sebab itu, dengan kesepakatan bersama sebagai consortium akan lebih murah daripada kesepakatan individu organisasi. Namun, Pak Arief berseloroh dengan mempertanyakan ini soal “SIAP atau NIAT?“.

Kemudian brainstorming mengenai peluang-peluang terhadap Campus Agreement. Beberapa catatan:

1. Pada tahap awal disepakati untuk memfokuskan dua produk utama dari Microsoft yang banyak digunakan oleh PTS, yaitu : Sistem Operasi Microsoft Windows dan Microsoft Office

2. Sosialisasi ide lisensi ini ke masing-masing PTS dengan sebaik-baiknya tanpa ada kesan promosi dan bahwa ini baru penjajagan melakukan CA.

3. Mempertimbangkan bahwa setiap PTS memiliki keunikan dalam teknologi informasi. Jumlah komputer, jumlah user, varian kebutuhan atas IT, cara menggunakan, dsb dsb terutama kemampuan finansial. UUD bah!! Ujung-Ujung-nya Doku juga. :)

4. Agak berresiko untuk mengasumsikan bahwa semua PTS akan langsung
setuju untuk melisensikan penggunaan program komputernya, tapi semakin banyak PTS yang bersedia melakukan lisensi, maka makin murah biaya per satuan serta makin bermakna “Academic Consortia”.

5. Bagaimana membuat sistem kontribusi dana per PTS yang adil.

6. Adakah “keuntungan” lebih dari agreement Microsoft, misal: pelatihan, riset.

7. Apakah mungkin mengusahakan dukungan dana untuk kepentingan lisensi ini dari pihak ketiga?

Masih ada rencana diskusi dan pertemuan selanjutnya untuk membahas ini. Saya akan usahakan report ke blog ini. Semoga bukan sekedar wacana.
ps: sebagian ringkasan ini saya kutip dari laporan “resmi” Pak Tom.

Posted in Teknologi Informasi | 1 Comment »