Kerja dulu atau lanjut kuliah dulu?
Posted by gatut on 18th March 2006
Ini potongan email kepada keponakan yang baru lulus Sarjana.
Kerja dulu kemudian lanjut kuliah lagi atau lanjutkan kuliah dulu baru kerja? Masing-masing ada untung rugi-nya. Sekali lagi ini soal opsi setelah lulus sarjana:
- a. kerja dulu, misal 1-2 tahun, kemudian ambil kuliah S2.
- b. langsung kuliah S2 hingga lulus, kemudian kerja.
Mana opsi yang sebaiknya dipilih?
Menurut saya dan beberapa teman seusia saya, pada masa sekarang ini, lebih tepat untuk sebisa mungkin kuliah S2 sesegera mungkin. Cepat lulus. Kemudian baru cari kerja atau malah wiraswasta.
Biaya
Jika memang tidak ada biaya atau biaya pas-pas-an (mepet sekali), maka kerja dulu mungkin menjadi pilihan utama. Asal, tetap konsisten untuk tetap menyiapkan biaya kuliah. Nyatanya, sangat sulit. Inginnya: cukup mapan baru kuliah lagi. Standar mapan ini yang paling sulit dipenuhi karena standarnya bergeser terus. Terlebih, godaan aktualisasi diri berupa prestasi di dunia nyata juga tidak ada habisnya.
Harus diakui, meski nilai mata uang turun, harga makin mahal, persaingan makin besar, namun daya beli sebenarnya meningkat. Meski jarak kaya-miskin jauh, namun sebenarnya banyak opsi yang terjangkau yang bisa diambil. Ada makin banyak peluang untuk mendanai kuliah.
Biaya atau investasi.
Kalau ada beasiswa, bagus, tapi kalau tidak ada (gagal memperoleh) beasiswa
sedangkan sebenarnya biaya ada (misal orang-tua) maka mending bayar sendiri.
Pertimbangan utama pada waktu. Waktu TIDAK BISA DIBELI. Bayangkan, berapa duit yang bisa didapat sekarang. Bandingkan, seandainya (seharusnya?) uang yang bisa didapat setelah lulus S2. Uang yang dibayarkan adalah salah satu bentuk investasi. Bukan biaya (cost)! Investasi, karena dana untuk kuliah akan kembali terutama berupa keahlian, keterampilan, nilai diri yang lebih berharga. Yang akhirnya, pasti juga memperoleh penghasilan uang.
Pengalaman.
Hampir semua lowongan men-syaratkan adanya pengalaman kerja. Padahal, bagaimana bisa berpengalaman “pernah kerja” bila untuk bekerja pun perlu pengalaman?
Seperti pertanyaan klasik: mana dulu telur atau ayam? Jawabannya jelas: telur dulu. Ayam sekarang sudah tertuduh kena flu burung. Jadi, dengan telur yang ditetaskan sendiri dalam karantina lebih terjamin bebas flu. Begitu juga, kuliah dulu sampai tuntas, lebih terjamin dari gangguan konsep para praktisi yang sok berteori sembarangan.
Persoalannya: karantina kampus-kampus kita, apakah terjamin?
Jawabannya: pilihlah kampus yang bisa dipercaya, dan percayakan lah.
Bila kampus sudah bisa-dipercaya, seharusnya kita juga mempercayai. Atau: mempercayai yang bisa dipercaya! Jangan dibalik lagi: tidak percaya pada yang dipercayai. Bingung!! Ha ha ..
Sudah seharusnya, teori muncul didasarkan pada banyak penelitian. Kemudian juga sudah diujikan pada banyak studi kasus. Bila belum, maka pasti bukan teori. Sudah menjadi tanggungjawab dan tugasnya para peneliti di kampus untuk memastikan kelayakan teori yang diajarkan.
Pengajaran teori hendaknya menyertakan pengalaman yang muncul dalam setiap kasus yang terkait. Artinya, dengan memahami teori juga membawa segudang pengalaman. Demikian lah “harga” pendidikan formal menjadi layak karena selain mendapat teori juga -terlebih- percepatan alih pengalaman/pengetahuan. Kita tak perlu lagi menjalani 10 tahun pengalaman, melainkan cukup 1 semester untuk pengalaman tersebut.
Terus. Setelah lulus nanti, bagaimana saya mendapat pekerjaan yang me-syaratkan pengalaman?
Pengalaman ada dalam studi kasus yang dibahas di perkuliahan. Itu lah pengalaman kita. Biasanya ini hanya berbeda pada kedalaman. Orang yang mengalami, benar-benar tahu detail masalah. Kerugiannya, selain yang mengalami kehabisan waktu menghadapi detail juga kehilangan / kekurangan sudut pandang yang lebih obyektif serta global.
Bagaimana mengangkat pengalaman tersebut agar menjadi pengalaman kita?
Nanti dilanjut deh. Sekarang saya ada urusan lain.
Posted in Lembaga pendidikan, Perkuliahann | 1 Comment »