GAgasan Tanpa Update Terus

Gagasan, sharing, diskusi, mengenai pendidikan secara umum dan pendidikan komputer (teknologi informasi)

Mengapa semua soal ujian dikembalikan?

Posted by gatut on May 24, 2006




Beberapa fakultas / perguruan tinggi mempertahankan kebijakan untuk menjaga agar soal ujian (UAS, UTS, dan tugas) tidak beredar kepada umum.

Berikut ini saya kutipkan pendapat Pak HARIONO (seorang dosen sistem FE UNPAR) yang saya edit sedikit supaya cocok untuk publish di sini.

Awalnya, ide muncul dengan dua alasan :

1. Dosen berjaga-jaga kalau tidak sempat buat soal baru. Masih bisa mengeluarkan soal lama.

2. Kebiasaan mahasiswa yang mengandalakan hanya daya ingatnya dan menghafal saja catatan kuliah singkat/copy transparan/slides kuliah dan sebagainya.

Alasan yang pertama memang menjadi tidak relevan ketika edisi buku berubah tiap satu atau dua tahun.

Alasan kedua lebih dikuatirkan terutama untuk matakuiliah yang dari sananya lambat berkembang [semisal – behavioral accounting, etika, logika, matematik dan sejenisnya yang variasi soal sangat tergantung pada kreasi dosen.

Hal lain yang tak terpikir sebelumnya adalah, bahwa produksi kertas bekas untuk dijual ke pabrik Leces bisa menjadi tambahan berarti untuk kesejahteraan karyawan (seandainya) langsung tanpa perlu melalui pos penerimaan universitas atau yayasan lagi.

Menurut saya, dikumpulkan kembali berkas soal itu bukan masalah besar kalau tidak dapat disebut “bermasalah”, terutama kalau alasannya sekedar “supaya mahasiswa dapat mempelajari kesalahannya supaya ujian kedua kali bisa lebih mudah dan lulus”. Bukankah asumsi mahasiswa harus mengikuti proses pembelajaran seutuhnya merupakan jaminan besar ia akan dapat lulus ?

Pertanyaan tambahan dari saya:

  • Berapa banyak mahasiswa yang bersedia membahas kembali soal ujian sebelumnya?
  • Bila soal ujian sebelumnya perlu bagi mahasiswa (berikutnya), mengapa tidak ada peredaran contoh soal ujian meskipun di kalangan terbatas (underground)?

Apa tanggapan?

2 Responses to “Mengapa semua soal ujian dikembalikan?”

  1.   NEZ Says:

    kalo kata saya mah… bilang aja

    dosen suka malez bikin soal

    bapa kaya ga tau aja

    dosen – dosen kita kan kebanyakan pengen enaknya doang….

    tanya ken – apa??????? he8 peace ah…

    masukan aja buat para dosen…

    kadang dengerin maunya himpunan dan mahasiswa itu perlu lho…..

  2.   gatut Says:

    Setuju!!

    Apapun alasannya, tidak boleh malas.

    Fakultas/jurusan dan dosen memang harusnya mendengerkan keinginan/harapan himpunan dan mahasiswa. Bukan hanya kadang-kadang, tetapi SELALU. Meski, tidak berarti mengikuti semua maunya mahasiswa. Yang penting berusaha mengakomodasi kebutuhan.