Buku merakyat bukan buku melarat
Posted by gatut on February 6, 2007
Siapa yang tidak terperangah membaca review bukuĀ MENGATASI SUSAH KENTUT & MENGOBATI PANU? Untunglah ditutup dengan moral cerita:
Kita butuh buku edukatif untuk rakyat dengan harga dan pola distribusi yang sangat merakyat. Tak cukup kita mengampanyekan gemar membaca tapi buku yang tersedia dan mudah dibeli adalah yang menyesatkan.
Tujuan atau harapan kita bersama adalah untuk menyediakan buku murah dengan harga dan distribusi terjangkau masyarakat. Subsidi percetakan mungkin bukan solusi, karena hanya menguntungkan pengusaha.
Lebih penting mendapatkan kemampuan memproduksi ‘isi’ berkualitas yang ada dalam buku. Kemampuan produksi, dalam arti bersinambung, berkelanjutan.
Ada ide?
ps: judulnya tak nyambung?
February 13th, 2007 at 2:36 pm
Saya pernah melihat buku2 inpres, yang “sangat proyek”, isi sekadarnya, termasuk ilustrasinya.
Zaman Belanda, ada komisi bacaan rakyat (volkslectuur) — memang untuk kepentingan penjajah. Tapi kualitas grafis bukunya bagus.
Sekarang bikin aja semacam bank buku, hanya naskah terilih dan ilustrasi bagus yang akan diterbitkan. Beberapa lembaga (Ford Foundation? Asia Foundation? Unesco? UNDP?) mungkin mau membantu.
Yang jadi masalah: gratis itu kadang tak mendidik, lagi pula distribusinya bisa “asal bagi-bagi” saja. Jual murah, itu yang perlu. Begitu murahnya sehingga untuk memfotokopi pun sayang.
Minta sponsor? Why not. Buku beternak lele dengan sponsor bank, toko, atau korporat gede, untuk nekan biaya cetak, kayaknya bisa.
Kalau saja rokok masih dianggap etis, yah buku murah disponsori oleh pabrik rokok.