<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Buku merakyat bukan buku melarat</title>
	<atom:link href="http://gatut.edublogs.org/2007/02/06/buku-merakyat-bukan-buku-melarat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gatut.edublogs.org/2007/02/06/buku-merakyat-bukan-buku-melarat/</link>
	<description>Gagasan, sharing, diskusi, mengenai pendidikan secara umum dan pendidikan komputer (teknologi informasi)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Jul 2008 07:02:35 -0400</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Paman Tyo</title>
		<link>http://gatut.edublogs.org/2007/02/06/buku-merakyat-bukan-buku-melarat/comment-page-1/#comment-228</link>
		<dc:creator>Paman Tyo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 07:36:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gatut.edublogs.org/2007/02/06/buku-merakyat-bukan-buku-melarat/#comment-228</guid>
		<description>Saya pernah melihat buku2 inpres, yang &quot;sangat proyek&quot;, isi sekadarnya, termasuk ilustrasinya.

Zaman Belanda, ada komisi bacaan rakyat (volkslectuur) -- memang untuk kepentingan penjajah. Tapi kualitas grafis bukunya bagus.

Sekarang bikin aja semacam bank buku, hanya naskah terilih dan ilustrasi bagus yang akan diterbitkan. Beberapa lembaga (Ford Foundation? Asia Foundation? Unesco? UNDP?) mungkin mau membantu.

Yang jadi masalah: gratis itu kadang tak mendidik, lagi pula distribusinya bisa &quot;asal bagi-bagi&quot; saja. Jual murah, itu yang perlu. Begitu murahnya sehingga untuk memfotokopi pun sayang.

Minta sponsor? Why not. Buku beternak lele dengan sponsor bank, toko, atau korporat gede, untuk nekan biaya cetak, kayaknya bisa.

Kalau saja rokok masih dianggap etis, yah buku murah disponsori oleh pabrik rokok. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah melihat buku2 inpres, yang &#8220;sangat proyek&#8221;, isi sekadarnya, termasuk ilustrasinya.</p>
<p>Zaman Belanda, ada komisi bacaan rakyat (volkslectuur) &#8212; memang untuk kepentingan penjajah. Tapi kualitas grafis bukunya bagus.</p>
<p>Sekarang bikin aja semacam bank buku, hanya naskah terilih dan ilustrasi bagus yang akan diterbitkan. Beberapa lembaga (Ford Foundation? Asia Foundation? Unesco? UNDP?) mungkin mau membantu.</p>
<p>Yang jadi masalah: gratis itu kadang tak mendidik, lagi pula distribusinya bisa &#8220;asal bagi-bagi&#8221; saja. Jual murah, itu yang perlu. Begitu murahnya sehingga untuk memfotokopi pun sayang.</p>
<p>Minta sponsor? Why not. Buku beternak lele dengan sponsor bank, toko, atau korporat gede, untuk nekan biaya cetak, kayaknya bisa.</p>
<p>Kalau saja rokok masih dianggap etis, yah buku murah disponsori oleh pabrik rokok. <img src='http://gatut.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
